Bagai petir di siang bolong, berita duka itu seketika menyesakkan dadaku. Ini terjadi malam ini, tepat jam 22.05. Baru saja layar komputerku menyala karena aku ingin membuka situs bank mandiri untuk aktivasi internet banking, ponselku bergetar. Di layar ponsel tertulis “Mafruzi memanggil”.
Nama itu membuatku tersentak. Berbagai prasangka mendadak memenuhi kepalaku. Mafruzi adalah ajudan K.H.Ahmad Rais Abdillah. Seminggu yang lalu dia memberi kabar bahwa guru kami tercinta K.H. Ahmad Rais Abdillah, dirawat di RS Graha Husada Bandar Lampung. Beberapa hari kemudian dia memberi kabar lagi bahwa Abah Rais, demikian panggilan beliau, dipindah ke RS Urip Sumoharjo Bandar Lampung.
Apa yang kutakutkan ternyata benar. Suara di ponsel seberang sana terdengar sesegukan: menangis. Dengan terbata-bata dia mengatakan bahwa Almukarrom Abah Rais meninggal dunia tepat pukul 22.00. Innalillahi wainnailaihi rojiun.
“Ya Allah terimalah guru kami tercinta di sisi-Mu dan terimalah amal kebaikan dan amal ibadahnya selama di dunia. Aminn”.
K.H. A. Rais Abdillah adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Mathlaul Huda, Ambarawa, Kab. Tanggamus, Lampung.